Selasa, 06 Juni 2017



LELAKI RANTAU




               Yusuf Suwarjo ayah dari Nur Ridho Fauzan Wahib, lahir di Klaten, 29 Agustus 1970 dari seorang pedagang. Yusuf Suwarjo bekerja sebagai tukang kayu dan tukang batu, ia sejak kecil sudah di bawa kemana mana olah orang tuanya. Dari Klaten ke magelang, Magelang ke Surabaya, Surabaya pindah ke Jakarta, Jakarta pindah ke Lampung. Itu sebabnya mengapa Yusuf saya sebut sebagai lelaki rantau.

               Yusuf ketika usia 1 tahun ia dibawa ke Magelang oleh orang tuanya, ia hidup di magelang tepatnya di Kampung Cacaban, Magelang Tengah, Kota Magelang selama 8 tahun. Yusuf ketika SD sekolah di SD Cacaban 5. Yusuf seoarang siswa yang nakal di karenakan sering berantem dengan temannya. Mungkin karena ia nakal kemudia ia memiliki mental untuk pergi ke daerah lain sediri.

               Yusuf Suwarjo ketika usia 8 tahun ia pergi ke Surabaya bersama pamanya. Yusuf pindah ke Surabaya karena di Magelang ia nakal, kemudian di Surabaya ia malanjutkan sekolahnya hingga lulus SD. Setelah lulus SD, ia meminta pamanya untuk kembali ke Magelang dengan alasan ingin bertemu dengan orang tuanya. Akhirnya karena pamanya tidak bias mengantarnya lalu ia menuju Magelang sendiri. Dengan pengalaman tersebut ia mulai memiliki keberanian akan pergi kemana kamana sendiri. Sesampainya di Magelang ia di melanjutka sekolah SMP di Magelang. Ia sudah tak nakal lagi bahkan ia punya sahabat sahabat dekat pada saat SMP.

               Yusuf Suwarjo ketika di Magelang ia bersekolah sambil membantu bekerja orang tuanya. Yusuf selalu bangun pagi ia mengantar ibuya ke Pasar Gotong Royong jam 5 pagi untuk belanja, kemudian membawa blanjaannya menuju Pasar Cacaban. Yusuf setiap pagi harus membuka 2 warung yaitu warung rumah dan warung pasar, kadang warung pasar dibuka ayahnya. Kemudian setelah kegiatan rumah selesai ia langsung bergegas menuju sekolah, itu dilakukan selama 3 tahun.

               Setelah lulus SMP ia diajak kedua orangtuanya ke Jakarta untuk membuka warung di sana. Di Jakarta ia mencari sekolah yang dekat dengan warungnya dengan alasan supaya warungnya ramai didatangai teman-temanya, selama 2 tahun di Jakarta Yusuf kembali lagi ke Magelang. Ia melanjutkan SMA di Magelang, dan di situlah kisah cinta Yusuf terjadi. Yusuf memiliki kekasih saat SMA ia selalu satu kelas selama 3 tahun .

               Setelah lulus SMA ia ikut bersama orang tuanya menuju Lampung. Ketika di Lampung ia bekerja sebagai tukang kaya membantu ayahnya. Yusuf bekerja sebagai tukang kayu selama 3 tahun kemudian ia kembali ke Magelang untuk mencari pekerjaan di Magelang selama 2 tahun kemudian ia melamar kekasihnya, dan pada usia 23 tahun.



Yusuf Suwarjo dikaruniai 2 anak, putrid dan putra. Anak pertama Yusuf sekarang sudah bekerja sebagai guru, sedangkan anak kedua Yusuf sekarang sedang beranjak SMA. Yusuf adalah leleaki yang hebat dan pekerja keras, Melang lang buana untuk mencari nafkah demi keluarga. Jadilah pemimpin keluarga yang bertanggung jawab atas keluarganya.  

Minggu, 04 Juni 2017

LAPORAN KEGIATAN PEMBELAJARAN LUAR SEKOLAH

MUSEUM SANGIRAN(Pembelajaran Luar Sekolah)


Pembelajaran Luar Sekolah (PLS) SMA Negeri 2 Magelang dilaksanakan pada tanggal 2 Maret 2017 menuju monumen bersejarah di Jawa Tengah yaitu Sangiran. Tujuan SMAN 2 Magelang  melakukan pembelajaran luar sekolah di Sangiran agar siswa-siswi mengetahui sejarah pada masa purbakala di daerah nusantara tepatnya di tanah Jawa. Sangiran tepatnya berada di daerah Kalijambe, Sragen, Krikilan, Kalijambe, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah 57275.

Sangiran adalah salah satu tempat bersejarah yang ada di Pulau Jawa. Tempat dimana banyak fosil-fosil makhluk purbakala yang ada di Sangiran. Derah tersebut terdapat lembah yang dulunya adalah kubah dan terkikis karena erosi sehingga membentuk sekungan lembah dan terdapat lapisan tanah yang paling atas sampai paling bawah. Dengan adanya hal tersebut para ilmuan meyakini bahwa banyak fosil yang dapat di temukan di daerah tersebut dan pada akhirnya daerah tersebut menjadi tempat penelitian internasional.

Sangiran tidak hanya menajikan berbagi fosil hewan namun juga terdapat fosil manusia purba dari berbagai asalnya. Fosil manusia di sangiran banyak sekali di temukan, karena pada saat itu sangiran terdapat muara sungai yaitu Sungai Bengawan Solo Purba. Manusia purba pada saat itu tidak memiliki rumah melainkan ia hanya selalu berburu dan meramu, berpindah pindah tempat dan bergerak menuju ke sungai, itu sebabnya fosil manusia purba banyak ditemukan di tepi sungai.
Fosil rahang bawah Pithecantropus Erectus ditemukan di Sangiran sehingga terjawablah pertanyaan asal usul kehidupan jawa. Hal tersebut merupakan penemuan terbesar di indonesia bahkan di dunia di karenakan penemuan tersebut adalah penyempurna perubahan bentuk manusia purba.

Sangiran akhirnya mendapat penghargaan UNESCO pada tengal 5 Desember 1966 berupa “Situs Warisan Dunia”. Museum Sangiran ini sangat lengkap memiliki ruang pameran,ruang audio visual, aula, pertpustakan, laboratorium penyimpanan fosil.

RUANG 1 (RUANG PAMERAN)

Ruang pameran pertama menyajikan fosil fosil hewan, manusia purba, batu, dan layar keterangan. Pada ruangan ini terdapat fosil gajah purba, fosil kudanil purba, kepala manusia purba, kepala banteng purba, batu kayu purba, kayu purba dan masih banyak lainnya.


RUANG 2 (RUANG PAMER 2)
Ruang pameran yang kedua berisi tentang bagaimana proses manusia purba melakukan kehidupan dan langkah langkah kehidupan yang di kemukakan melalui teori evolusi. Para peneliti di tampilkan dalam ruanangan tersebut dan memberikan kisah kisah cerita peneliti tersebut.

RUANG 3 (RUANG PAMER 3)

Ruangan ini menyajikan tentang bagaimana kehidupan Homo Erectus pada masa itu dan di jelaskan bagaiman ia berburu dan melakukan perjalanan. dalam ruangan ini juga di sajikan perbedaan antara Homo Sapiens dengan Homo Erectus 

Dalam ruangan ini juga dijelaskan mengenai  Homo Floresiensis, inu adalah manusi puraba dewasa namun bertubuh pendek dengan tinggi 106cm. Homo Floresiensis tergolong manusia purba cerdas dikarenakan dalam berburu sudah mengenal tombak yang terbuat dari kayu bambu yang di runcingkan. 

PANTAI BARON


Setelah dari Museum Sangiran siswa-siswi SMAN 2 Magelang melanjutkan perjalanan menuju Museum Karst yang berada di Gebangharjo, Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57664Akan tetapi pada tengah tengah perjalanan semua bis berhenti di SPBU Wonosari. Perjalanan menuju Museum Karst dibatalkan di karenakan sudah tutup. Akhirnya, perjalanan diganti menuju ke Pantai Baron, justru malah siswa-siswi senang dengan keputusan tersebut.

Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul. Pantai ini cukup ramai dikarenakan memiliki pemandangan yang indah dan di apit oleh gunung karang yang besar. Uniknya pantai baron adalah bertemunya air laut dan air tawar. Pantai baron dilengkapi dengan adanya pasar aneka masakan laut, baju baju pantai dan lain sebagainya.

Setelah bersenang senang di Pantai baron siswa-siswi SMAN 2 Magelang beranjak untuk makan bersama dan di lanjutkan perjalanan menuju Kota Magelang (Kota Sejuta Bunga)